SEJARAH ZENI TNI AD

Proklamasi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan babak baru bagi perjuangan bangsa Indonesia. Dengan proklamasi ini, segenap bangsa Indonesia merupakan suatu “Bangsa” yang merdeka dan berdaulat. Begitu juga tanah air Indonesia menjadi wilayah negara yang berada dalam suasana kemerdekaan. Kedaulatan dan kekuasaan sepenuhnya berada ditangan rakyat serta tidak mengizinkan adanya kekuasaan asing dibumi Nusantara ini.

Proklamasi kemerdekaan tersebut telah membangkitkan pula jiwa dan semangat patriotisme bangsa Indonesia. Sejalan dengan usah pemerintah untuk melengkapi aparatur pemerintah, rakyat bergerak membantu usaha tersebut sehingga dalam waktu yang singkat terbentuklah aparatur pemerintah baik di Pusat maupun di Daerah-daerah.

Selaras dengan tanggung jawab yang dibebankan kepada bangsa dan negara, maka pada tanggal 22 Agustus 1945 dibentuklah suatu wadan rakyat pejuang dengan sebutan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Lembaga ini bukan merupakan suatu Tentara Kebangsaan melainkan bagian dari Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP).

Walaupun demikian sudah terkandung maksud untuk melindungi segenap bangsa dalam menghadapi ancaman baik dari dalam maupun dari luar wilayah negara Republik Indonesia.

Sementara Pemerintah secara formal mengesahkan berdirinya BKR, rakyat pejuang secara spontan membentuk kelompok berupa Laskar. Barisan Pejuang yang dilandasi oleh semangat cinta terhadap tanah air. Diantara beberapa Laskar yang memiliki unsur Zeni antara lain Laskar Jawatan Kereta Api, Laskar buruh, Laskar Minyak dan sebagainya.

Mengingat ancaman terhadap kemerdekaan Indonesia makin lama makin meningkat dan juga sesuai dengan saran dari bapak Urip Soemohardjo yang menyatakan bahwa “aneh suatu negara tampa Tentara” maka pada tanggal 5 Oktober 1945, pemerintah mengeluarkan maklumat tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Pada kesempatan ini sebagian Laskar masuk kedalam wadan TKR dan sebagian masih tetap mempertahankan statusnya semula. Beberapa hari setelah maklumat 5 Oktober 1945, pemerintah  mengumumkan  komposisi personil pimpinan TKR. Soepriyadi  diangkat sebagai Pimpinan Tertinggi TKR dan Oerip Soemohardjo sebagai Kepala Staf  Umum dengan pangkat Letnan Jenderal. Mula-mula Kepal Staf Umum menyusun organisasi Markas Tertinggi TKR dan Markas Besar Umum di Yogyakarta, sesudah itu disusun Divisi-divisi. Pembentukan TKR  1945, di Jawa timur diikuti pula dengan pembentukan Pasukan Teknik TKR Gajah Mada yang dipimpin oleh Letkol Hasanudin.

Pimpinan TKR Jawa Timur juga menugaskan Ir.Nowo membentuk Dinas Genie. pada saat yang hampir bersamaan Soeratin seorang pegawai pada Osamu 1602 Butai Kairibu Syucoku di Surabaya mengambil alih Butai tersebut .

Atas hasil  perundingan OKtober 1945 antara pimpinan TKR Jawa Timur dengan Kolonel Motozima  komandan Osamu 10820 Butai Kairibu Syucoku, maka Butai dilaksanakan pada tanggal 10 Oktober 1945, pihak jepang  diwakili oleh Mayor Nakamura, pihak Indonesia oleh Soeratin Poewowikarto.

Pada tanggal 15 Oktober 1945 Jenderal Dr.moestopo selaku mewakili Menteri Pertahanan Keamanan RI mengangkat Ir.Nowo dan Soeratin masing-masing sebagai Komandan dan Wakil Komandan Genie.

Tanggal 15 Oktober inilah yang akhirnya ditetapkan sebagai hari Zeni TNI AD. sejak hari tersebut Genie merupakn organisasi militer yang teratur dan mempunyai pimpinan pusat.

Kegiatan pembentukan Genie ini disusul pula dengan pembentukan dinas-dinas maupun satuan Genie didaerah lain.

Di Sumatera pembentukan Genie diawali dengan berdirinya Batalyon Persenjataan yang dipimpin oleh Sdr.Moch.Yasin selaku ketua Komite Nasional Sawahlunto atas persetujuan Komandan Resimen M. Syafei, dan Komandan TKR Kolonel Dahlan Djambek.

Di Aceh pada tanggal 15 Oktober 1945 dibentuk organisasi Genie yang meliputi juga unsur perhubungan, peralatan dan perawatan. Pembentukan Genie di Aceh di pelopori oleh Usman Taing sebagai realisasi pengisian organisasi TKR. Bulan berikutnya yaitu November 1945 dibentuk Dinas Genie di Sumatera Utara sebagai suatu bagian dari Divisi X di Pematang Siantara. Dinas Genie ini dibawah Pimpinan Kapten Mulyadi. Pada akhir tahun 1945 yaitu tanggal 1 Desember 1945, atas perintah KOmandan Batalyon TKR 50 kota dibentuk Genie dibawah pimpinan Letda Chaidir. Jabatan ini Kemudian diganti  Kapten Nursani. Kantornya menempati komplek  perbengkelan “Yama Sita Butai” di Payakumbuh.

Menyusul kemudian di Sumatera Selatan pada bulan Desember 1945 dibentuk Batalyon Genie dibawah pimpinan Kapten Patiasina.

Pada umumnya dalam Brigade TKR Sumatera Selatan pada saat itu sudah terdapat pasukan Zeni, salah satunya antara lain dalam Brigade TKR “Gajah Mada”, terdapat pasukan perusak (Genie) dipimpin oleh Letnan Muda Harun Al Rasyid (Direktur PT.Caltex).

Di Jawa Barat pengisian satuan Genie dimulai dengan pembentukan Sekolah Genie di Btujajar (Cimahi) pada tanggal 12 November 1945 dibawah pimpinan Sdr.A soeparmadi.

Pada saat tentara inggris mendarat untuk melucuti tentara Jepang, sekolah Genie tersebut dihentikan kegiatannya namun hasil didikannya waktu itu telah berjasa untuk pengisian personil seksi Genie pada Batalyon-Batalyon Resimen 8 ditahun berikutnya.

Di Jawa Tengah pembentukan Genie baru dimulai setelah Instruktur sekolah Genie di Batujajar Bandung karena situasi pindah ke Surakarta. Tanggal 23 Pebruari 1945 para Instruktur tersebut mendirikan lagi sekolah Genie di Desa Kleco (surakarta).

MASA PERANG KEMERDEKAAN ( 1945-1950 )

Proklamasi kemerdekaan Indonesia yang di kumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945 terjadi pada saat keadaan di dalam negeri vacum of power (kekosongan kekuasaan). pada waktu itu pendudukan Tentara Jepang di Indonesia sudah berakhir (15-8-1945) dengan menyerah kepada sekutu. sementara pasukan sekutu sebagai pemenang perangpun belum sempat mendarat ke Indonesia.

Masuknya tentara sekutu di indonesia ternyata tidah semudah apa yang mereka rencanakan karena di setiap tempat pendaratan para pejuang bangsa baik yang tergabung dalam TKR maupun laskar sudah siap untuk menghadangnya. Bangsa Indonesia tidak menghendaki ada nya pemerintah Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia dan turut membonceng tentara sekutu oleh karena itu terjadilah pertempuran-pertempuran antara tentara sekutu yang memiliki pengalaman dan persenjataan lengkap melawan Tentara Keamanan Rakyat yang memiliki sikap mental “Merdeka atau Mati” dengan persenjataan seadanya.

Berbagai pertempuran yang menentukan di awal kemerdekaan ini antara lain : Palagan Medan, Palagan Palembang, Palagan Bandung, Palagan Ambarawa, Palagan Semarang, Palagan Surabaya. Dalam setiap pertempuran itu kesatuan Zeni sebagai bagian dari TKR telah memberikan andilnya dalam bentuk penghadangan, pembumihangusan jembatan, bangunan dan lain-lain guna menghambat gerak maju pasukan musuh. Untuk mendapat gambaran keikutsertaan Zeni pada peristiwa tersebut di atas di paparkan data sejarahnya sebagai berikut.

PERANAN ZENI PADA PERTEMPURAN AWAL KEMERDEKAAN

Dari beberapa pertempuran yang paling banyak melibatkan tenaga personil dan juga banyak memakan korban ialah Palagan Surabaya. Pada saat itu TKR Jawa Timur telah di lengkapi pula oleh unsur Zeni yang terdiri dari dinas Genie, Pasukan Genie dan pasukan tehnik Gajah Mada.

Para tehnisi dengan bantuan Rakyat telah dapat merebut pusat-pusat persenjataan Jepang dengan hasil yang gemilang. Pasukan Tehnik “Gajah mada di bawah pimpinan Letkol Hasannudin Sidik dan Pasukan Tehnik lainnya di bawah Ir. Nowo maupun yang terhimpun dalam laskar DKA dan lain sebagainya mulai menyusun pertahanan dari alat persenjataan yang telah di kuasai. Instalasi-instalasi senjata berat di letakkan pada tempat-tempat yang strategis antara lain :

1)  4 pucuk kanon kal. 4,5 cm dan 7,5 cm di tempatkan di muka               stasiun KA sepajang.

2)  6 pucuk kanon kal. 4,5 dan 7,5 cm di tempatkan di muka pabrik       Waru Sidoharjo.

3)  5 pucuk kanon kal. 7,5 cm di tempatkan di Kalitangi Gresik.

Rintangan-rintangan di pasang dimana-mana untuk menghambat gerakan musuh.

Tentara Tehnik Gajah Mada tetap berada di posnya masing-masing tidak meninggalkan kota sesuai perintah Dr.Moestopo malahan membantu pertempuran bersama-sama dengan lasykar tehnik lainnya. Rintangan di pasang untuk menghalangi lolosnya musuh, pohon-pohon di tebang, lobang di buat jalan-jalan, alat-alat rumah tangga berupa meja, kursi di pergunakan sebagai halang rintangan dan gundukan-gundukan tanah di pergunakan sebagai perisai.

Pasukan tehnik memasang ranjau, Boby trap di tempat-tempat yang sekira dapat di terobos musuh. Dari kedung Cowek pasukan yang terdiri dari bekas pegawai tehnik, tukang-tukang, montir, pekerja-pekerja dari angkatan Laut Jepang serta kaitun Heibo menembaki daerah pelabuhan dengan kanon dan senjata-senjata berat, drum-drum berisikan minyak di pelabuhan di bakar dan lemparkan ke laut dalam usaha kita menyerang kapal-kapal mereka yang memberikan bantuan tembakan. sungguh krisis situasi pasukan Inggris, pembekalan mereka telah menipis tidak boleh tidak mereka pasti hancur bila tidak mendapatkan bantuan.

Pasukan Tehnik Gajah Mada dan Pasukan Genie selain sibuk menghadapi musuh juga mengungsikan alat peralatan keluar kota.

Dengan bantuan segenap pasukan anggota Pasukan Tehnik dan Rakyat, peralatan perang dapat dipindahkan dengan kereta api dan truck-truck. Serangan yang bertubi-tubi dari musuh baik dari udara dan tembakan mortir, memaksa kita meninggalkan Don Bosco pada tanggal 27 November 1945 menuju Kriyan dimana anggota Staf telah diberangkatkan terlebih dahulu. Sambil mengundurkan diri, Pasukan Tehnik sebagai Pasukan yang terakhir digaris depan, melaksanakan tugas siasat bumi hangusnya.

Dari tempat kedudukan yang baru ini kita mengadakan serangan secara gerilya dengan cara mengadakan penghadangan dan sabotase di kota Surabaya. Pasukan dibawah pimpinan Kapten Soenarto dan Peltu Marsidi ditugaskan untuk membuka pintu air Wonokitri dengan maksud agar kota Surabaya tergenang air. Dalam usaha Peltu Marsidi membuka pintu air, jari-jarinya terjepit hingga putus, karena dilaksanakan dengan tergesa-gesa dibawah tembakan musuh.

kekurangan bahan peledak mengakibatkan kurang intensifnya sabotase-sabotase yang kita jalankan. Namun kita tidaj kekurangan akal dengan adanya daya improvisasi yang ada pada kita maka baik Hasanudin Sisik maupun Ir. Nowo berhasil memanfaatkan bom-bom yang kita miliki dengan merubahnya menjadi ranjau maupun alat penghancur lainnya.

Alat penghancur yang dipraktekkan oleh Zeni pertahanan Surabaya inilah kemudian dipergunakan disemua front dan diakui oleh Belanda akan keampuhannya karena dapat mengakibatkan bencana besar bagi tiap-tiap gerakan Belanda. Sejak Zeni memiliki alat penghancur ini sabotase-sabotase di front Surabaya dapat berjalan dengan memuaskan. Percobaan pertama dilakukan di tanggulangin Markas Ir. Nowo. Bahan pokok berupa bom diambil dari Tretes.

Adapun pembuatannya adalah sebagai berikut :

setelah tutup bom dibuka penggalaknya diganti dengan :

1) Pena pemukul.

2) Pena pengaman.

4) Tali penarik.

5) Perpena pemukul.

6) Peluru.

Tali penarik yang dihubungkan dengan pena pengaman dapat melepas pena pengaman bila ditarik.

Dengan lepasnya pena pengaman maka pena pemukul yang ditahan oleh sebuah per akan memukul peluru. Api yang ditimbulkan oleh peluru akan membakar isian TNT yang ada berada digelas isian yang kemudian akan membakar isian bom. Peledak dengan radang listrik konstruksinya lebih sederhana dengan menempatkan slagpyp didalam gelas isian TNT dan dihubungkan dengan kawat listrik ke batery. Percobaan pertama berhasil dengan baik Tendangan ledakan ini rakyat terkejut karena mereka tidak diberi tahu terlebih dahulu. Walaupun demikian mereka tidak gentar malahan beramai-ramai mengepung Ir. Nowo dan anak buahnya untuk menangkap karena dikira Ir. Nowo Cs adalah kaki tangan Belanda. Hal ini menunjukan bahwa semangat perjuangan meresap ditiap-tiap dada Rakyat Indonesia, baik dikota-kota maupun didesa-desa.

Oleh Pak Camat setelah Rakyat diberi penjelasan apa yang sedang dikerjakan oleh Ir. Nowo baru mereka mengerti malahan memberi bantuan se-penuhnya.

Setelah percobaan berhasil Sdr.Machmud Cs ditugaskan untuk menyusup kekota Surabaya dan dapat menghancurkan pabrik Ngagel. Soewandi, Moerdjito, Soesono, Martono, Soemantri (Resumad) dan kawan-kawan lainnya selain membuat penghancuran jalan-jalan dan jembatan juga mengadakan penghadangan-penghadangan. Penghadangan didaerah Bunduran yang dilakukan oleh Soewandi Cs, dapat menghancurkan sebuah truk dengan korban manusia yang cukup banyak. Peristiwa ini dikisahkan oleh Sdr. Soewandi (Wadan Puscabzi) sebagai berikut :

Untuk mengadakan penghadangan dipasang rintangan yang dijaga oleh Sdr. Soemantri Cs, ternyata tak ada pasukan musuh yang lewat.

Pada hari kedua Sdr. Soemantri Cs, diganti oleh Sdr. Soewandi Cs. Setelah menunggu beberapa lama datanglah sebuah tank yamg diiringi oleh 2 truk berisikan pasukan musuh dan rakyat yang dipaksa ikut membersihkan rintangan-rintangan. Melihat adanya rintangan maka tank dan truk berhenti dan pasukan mulai mengadakan penyelidikan, salah satu prajurit musuh melihat adanya kawat yang menghubungkan bom dengan batery. Segera ia membungkuk untuk memutuskan kawat. Melihat itu Sdr. Soewandi segera meledakan bom sehingga prajurit-prajurit musuh para pekerja mengalami kematian disamping truk rusak.

Bertepatan dengan meledaknya bom, Soewandi Cs segera melarikan diri disusul dengan tembakan-tembakan dari tank musuh dan untung tidak mengenai sasaran.

Penempatan bom pada rintangan ini walaupun mendapatkan hasil, namun kurang tepat, karena segera diketahui oleh musuh. Atas dasar pengalaman ini selanjutnya pemasangan bom dilakukan agak jauh dari rintangan. Tempat bekas lobang untuk menanam bom diratakan kembali dan dikamuflase dengan telapak ban mobil seolah-olah ada kendraan yang telah lewat. Cara lain untuk menghadang dengan menempatkan peluru mortir yang diikat dengan kawat diatas pohon. Tepat pada saat konvoi lewat tali dilepas sehingga dengan demikian meledaklah peluru mortir pada sasaran. Cara ini memberi hasil yang lebih baik.

Dilain pihak untuk menghambat gerakan musuh jembatan Sepanjang harus diputuskan. Pasukan teknik yang dipimpin sendiri oleh Letkol Hasanudin Sidik dengan mempergunakan bom-bom radang listrik telah siap ditempatkan pada gelagar-gelagar jembatan. Pada saatnya knop ditekan ternyata bom tidak meledak.

Tanpa melepaskan kabel dari batery bom-bom. Ternyata terdapat kabel yang lepas didekat bom yang telah terpasang. Tanpa berfikir panjang, kabel disambung dan meledak bom-bom bersamaan dengan hancurnya jembatan serta gugurnya Letkol Hasanudin Sidik seorang pahlawan Zeni dengan meninggalkan jasa tak ternilai harganya. Dengan gugurnya Letkol Hasanudin Sidik tanggal 29-11-1945 pimpinan pasukan Zeni diserahkan pada Mayor Soedarwo, sedangkan Kapten Soenarto oleh Markas pertahanan Surabaya ditunjuk sebagai Komandan Batalyon Genie Pionier Gajah Mada.

Pada tanggal 1 Desember 1945 dengan rasa sedih tetapi dengan semangat yang tetap menyala-nyala kota Surabya terpaksa kita tinggalkan setelah berjuang dengan tidak mengenal lelah selama sebulan. Pasukan kemudian mengadakan konsolidasi dengan mempergunakan Pabrik Susu sebagai markasnya.

Karena pengalaman yang sangat berharga, tetapi harus dibayar sangat mahal dengan gugurnya Letkol Hasanudin Sidik, maka selanjutnya penggunaan alat-alat peledak dapat berjalan dengan lancar. Dalam penggunaan alat-alat peledak bahan-bahannya didapat dari Divisi VII Mojokerto dan diolah dipusat perbengkelan Watudakon. Selain turut aktif bertempur mengepung kota Surabaya pasukan-pasukan teknik membuat steling-steling senjata berat antara lain di Kademen (Front Barat Surabaya) menghancurkan jembatan-jembatan disektor Gresik, Cerme, Kriyan sampai Surabaya Selatan.

Dalam perebutan daerah Gresik, Letda Sugiman yang memimpin pelajar tehnik telah dapat menghancurkan jembatan Kalitangi dan Kalianak.

Dari jalannya pertempuran di Surabaya nampak bawah TKR bagian Zeni telah berjuang bahu membahu bersama rakyat.

Dapat dibanggakan betapa hebatnya pertempuran yang berlangsung di Surabaya. Tentara Inggris yang demikian lengkap persenjataannya dengan prajurit-prajurit yang terlatih baik memerlukan 3 minggu untuk merebut satu kota dengan mengalami korban yang cukup besar. Dapat dibayangkan betapa gigihnya Pemuda-pemuda kita dalam mempertahankan tiap-tiap jengkal tanah airnya.

Ini semua merupakan cermin dan harus dipergunakan sebagai suri tauladan bagi seluruh Bangsa Indonesia, yang pernah mengalami peristiwa itu sendiri maupun generasi penerusnya. Tiada suatu golongan yang merasa paling berjasa, tiada satu suku bangsa yang apling menonjol, kesemuanya adalah berkat adanya persatuan kesatuan Bangsa. Nasib sesuatu bangsa tidak terletak ditangan Bangsa lain, akan tetapi ditentukan oleh bangsa itu sendiri.

Selain di Surabaya pertempuran menghadapi sekutu terjadi pula di Ambarawa yang berakhir pada tanggal 15 Desember 1945 berlangsung didalam kota dibantu dengan tiga buah kanon TKR Surabaya yang ditempatkan didesa Kupang sedang pasukannya sendiri menblokir jalan masuk kota Ambarawa di Bawean dan Ngasian. Pasukan perusak kita dan lasykar-lasykar Teknik mengiasai sentral listik Jelok dan Delik untuk menjaga segala kemungkinan dan memadamkan penerangan Ambarawa.

pertempuran di Jawa Tengah sifatnya agak berlainan dengan Jawa Timur. Disini yang menonjol adalah pasukan tempurnya. Kaum teknisi yang tergabung dalam TKR maupun lasykar-lasykar Rakyat lebih banyak melaksanakan tugas tempur. Ada beberap Batalyon Soeharso (Banjarsari) yang dipimpin oleh Sdr. Huri.

Mereka bertugas di Srondol dan Ungaran yang selain mengadakan penghancuran jalan dan jembatan juga sabotase-sabotase.

Walaupun peranan Zeni pada kali ini tidak menonjol bukti adilnya  dalam pertempuran tetap ada, hingga akhirnya pasukan sekutu mundur dari Ambarawa.

Palagan berikutnya yang cukup adalah Palagan Bandung atau lazim disebut Peristiwa Bandung Lautan Api. Pada saat itu daerah Bandung dan sekitarnya berda dalam lingkup kekuasaan Resimen 8 Divisi I/Siliwangi dibawah pimpinan Mayor Oman Abdurahman masing-masing Batalyon telah dilengkapi Seksi Zeni dan diatur sebagai berikut :

Batalyon I/Mayor Aburachman diperkuat oleh :

a) Seksi Genie/Soemanto didaerah Sapan Ciparay dan Majalay.

b) seksi Genie/Kromosentono didaerah cangkring Leuwi Dalam.

c) Seksi Genie/Saring didaerah Cimuncang Manggahar, Pasir Paros, Cagadi dan Dayeuh Kolot.

Batalyon III/Mayor Daeng.

Seksi Genie/Ujung didaerah Bojong Kunci, Cilaletik, Ranca Manyar dan sekitarnya.

Batalyon IV/Achmad.

Seksi Genie/Adung didaerah Soreang dan sekitarnya.

Batalyon V/Soegiarto

Seksi Genie/Sadjun dan Abdul Sumita di Daerah Cililin.

Ketegangan makin hari makin memuncak dan akhirnya pada tanggal 24 November 1945 para pejuang bersenjata memutuskan untuk mengadakan serangan umum. Tepat pada jam yang sudah ditentukan aliran listrik kota Bandung kita padamkan dan mulailah serangan dilancarkan. Pasukan Zeni yang baru terbentuk dengan kekuatan satu Kompi dibawah pimpinan Kromo Sentono dan di-Bpkan kepada Resimen 8 Divisi I/Siliwangi mengdakan perusakan pada gedung-gedung dikota Bandung serta rintangan-rintangan.

Adanya tekanan-tekanan yang kuat dari kita serta blokade yang ketat yang memutuskan segala jalur-jalur perbekalan didarat, keadaan mereka demikian sulitnya, sehingga terpaksa mengajukan permintaan penghentian tembak-menembak, hal mana kita hargai sepenuhnya. Seperti apa yang terjadi didaerah lain disinipun terulang lagi bahwa penghentian tembak-menembak hanya tipu muslihat saja, untuk dapat mengkonsolidir diri.

Sementara itu pertempuran terus berlangsung dimana-mana terutama dimalam hari. Rasa curiga yang ada pada mereka, bahwa tawanan Sekutu di Ciateul akan kita pergunakan sebagai sandera, maka pada tanggal 6 Desember 1945 pagi hari mereka bergerak keselatan dengan maksud mebebaskan para tawanan, dalam gerakan ini selain pasukan Infanteri, diperkuat pula tank-tank dan kendaraan berlapis baja, serta dukungan udara dengan pesawat pemburu dan pembom, pertahanan kita didaerah Lengkong yang cukup tangguh sewaktu menghadapi musuh yang serba lengkap persenjataanya terpaksa mundur sehingga Ciateul pin jatuh ketangan mereka. Tegalega, Batujajar tidak luput dari sasarannya, pada pertengahan Januari 1946 Batujajar mendapat serangan Kanon dari Bandung dengan sedemikian gencarnya sehingga Resimen -8 terpaksa berpindah-pindah tempat. Kompi Zeni terus mengikuti gerakan ini dari Cipaten -Cimaung Sampai ke Ciparay. Tetapi kita gentar, apapun yang terjadi akan kita hadapi dengan segala kemampuan yang ada pada kita. Kabinet Syahrir yang mengandalkan perjuangan diplomasi menyetujui tuntutan pihak sekutu, walaupun pihak pejuang tidak setuju dengan alasan bahwa kita dapat mempercayai lagi omongan mereka, yang jelas mempunyai maksud-maksud tertentu. Perdana Menteri St. Syahrir memerlukan datang sendiri Ke Bandung untuk memberikan penjelasan.

Taat akan perintah dari atasan dengan sangat berat. Bandung terpaksa kita tinggalkan. Tetapi sebelum mengundurkan diri kita mengadakan serangan umum pada tanggal 24 Maret 1946, yang mulai tepat jam 22.00 waktu itu. Pasukan Genie tidak ayal lagi melaksanakan bumi hangus terhadap bangunan-bangunan Vital  yang dapat dipergunakan oleh musuh, dan selanjutnya mengundurkan diri ke Lembur Awi. Kegiatan Zeni di Jawa Barat tidak begitu menonjol sepeti di Jawa Timur walaupun Organisai Zeni telah ada sejak 12 November 1945. Zeni lebih banyak melaksanakan tugas sebagai Infanteri, sesuai keadaan yang dikehendaki waktu itu. Sejak mundurnya pejuang bersenjata keluar kota, diadakan genjatan senjata untuk memberi kesempatan kepada mereka memulangkan tawanan perang jepang.

Di Sumatera pertempuran awal kemerdekaan yang cukup menonjol antara lain Palembang dan Medan. Angkatan Pemuda Indonesia yang terdiri dari kaum tehnisi tambang-tambang minyak merupakan embrio dari Zeni di Palembang. Setelah mengadakan perebutan kekuasaan dengan jepang Patiasena sebagai ketua API dapat mempersatukan semua kilang-kilang minyak dan membentuk PERMIRI, perusahaan minyak pertama di Indonesia milik bangsa sendiri. Dengan mendaratnya tentara Inggris beserta NICA-nya yang memilki persenjataan jauh lebih lengkap, serta menunjukan sikap ingin berkuasa, kecurigaan timbul dipihak kita.

Jelas mereka akan menguasai lagi tambang-tambang yang telah jatuh ketangan kita karena disinilah mereka akan dapat mengeruk kekayaan bumi kita sebanyak-banyaknya. Insiden-insiden kemudian timbul yang berkobar menjadi pertempuran. Setapak demi setapak kita desak keluar kota. kita senantiasa menghindari pertempuran-pertempuran yang besar yang dapat menghancurkan kita. Tenaga kita harus dihemat untuk dapat menghadapi mereka dalam waktu yang panjang. Sambil mundur kita menjalankan siasat bumi hangus.

Penduduk yang sedikit, dan persenjataan yang minim mempersulit  kita untuk memberi perlawana-perlawanan yang berarti, namun demikian gangguan-gangguan terus kita lancarkan. Walaupun Inggris dan NICA dapat melebarkan sayapnya, akan tetapi kita tidak akan pernah dihancurkan secara total.

Dengan bekal pengetahuan tehnik yang ada pada kita, mengadakan exploitasi tambang-tambang yang masih dapat kita kuasai antara lain di Prabumulih. Dari hasil pertambangan ini kita dapat membiayai perjuangan selanjutnya baik berupa peralatan maupun perawatan. Disamping adanya pasukan Patiasena terdapat pasukan Harun Alrasyid dan pasukan-pasukan perusak lainnya yang di-Bpkan ditiap-tiap Batalyon Infantri. Pasukan-pasukan ini banyak melakukan penghadangan serta sabotase jalan dan jembatan dirusak dengan bantuan Rakyat setempat untuk merintangi gerakan musuh.

Daerah Medan dan sekitarnya dalam membentuk pemerintah Sipil maupun Militer serta Badan-Badan Perjuangan mereka agak terlambat dibandingkan didaerah lain, karena hubungan kurang lancar. Namun demikian jiwa proklamasi yang berkobar dalam dada tiap-tiap rakyat Indonesia yang Cinta Tanah Airnya, membuat mereka bangkit menyingsingkan lengan baju untuk menyubangkan Dharma Bhaktinya dengan apa saja yang ada padanya.

Pada tanggal 23 September 1945 terbentuklah Barisan Pemuda Indonesia (BPI) yang memplopori perjuangan du Sumatera Timur, perkebunan-perkebunan, tambang-tambang Minyak, DKA, PTT dan sentral listrik segera beralih ketangan kita. Didaerah Medan Aceh yang memiliki kekayaan alam yang besar seperti perkebunan dan tambang minyak yang dapat dilanjutkan exploitasinya oleh kaum tehnisi kita.

Kaum teknisi yang menguasai tambang minyak yang tergabung organisasi Pesindo telah dapat memanfaatkan demikian rupa terutama didaerah Aceh yang sama sekali tidak dapat di jamah oleh Tentara Inggris Maupun NICA-nya, sehingga rakyat Aceh menyumbangkan kapal terbang bagi Negara.

Dengan adanya pendaratan sekutu pada tanggal 9 Oktober 1945 di Belawan dibawah pimpinan Brigadir Jenderal TED kelly, merupakan titik permulaan adanya kekacauan di Sumatera Utara dan daerah-daerah lainnya. orang-orang NICA yang melihat sumber kekayaan berada ditangan Bangsa Indonesia dengan jalan apapun ingin merebut kembali . Sikapnya yang congkak seolah-olah ia berkuasa, menimbulkan insiden-insiden yang dimulai di jalan Bali pada tanggal 13 Oktober 1945 yang akhirnya menjadi pertempuran sengit. Rakyat dengan segala keberaniannya walaupun hanya memiliki senjata bambu runcing dapat menimbulkan korban dikurang dari 15 orang. Dipihak kita jatuh pula korban yang tidak sedikt akibat persenjataan yang lengkap dari musuh, namun hal ini tidak membuat kita patah semangat. Pada tanggal 15 Oktober 1945 para pemuda menyerang kota Pematang Siantar dan berhasil membakar Hotel Siantar dan menghalau Pasukan NICA. Taktik gerilya yang kita lancarkan sangat mengganggu mereka sehingga pada tanggal 18 Oktober 1945 Jenderal TED Kelly mengeluarkan ultimatum agar segera menyerahkan senjatanya dengan sangsi akan dilancarkan serangan besar-besaran bila tidak ditaati. Karena tidak ada satupun yang mentaatinya, maka mereka mengadakan gerakan pembersihan, baik di Medan sendiri maupun Brastagi. Tebing Tinggi pada tanggal 4 Desember 1945 kereta api yang mengangkut tentara Jepang dapat kita hentikan dan berhasil merampas senjatanya.

Pada tanggal 10 Desember 1945 Inggris menyerang kedudukan kita di Deli Tua. Pertempuran sengit terjadi dan untuk menghindari kehancuran, kita terpaksa mundur setelah membumihanguskan proyek-proyek yang vital.

Pertempuran-pertempuran secara frontal kita hindari karena kalah dalam persenjataan. Gerakan penghadangan dan sabotase adalah taktik yang tepat untuk dapat bertahan selama mungkin dan dapat menimbulkan kerugian pada musuh sebesar mungkin. Dalam hal ini pasukan Genie dan kaum tehnisi yang tergabung dalam Badan Kelasykaran banyak melaksanakan penghadangan-penghadangan serta sabotase disamping bertindak sebagai Infanteri.

About cosmas97

Guru Militer di Pusat Pendidikan Zeni Kodiklat TNI AD
Aside | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s