Tentara Genie Pelajar (TGP)

Awalnya seperti kesatuan militer selain lulusan PETA, maka kesatuan lain terbentuk secara sukarela dengan niat mulia mempertahankan kemerdekaan. Begitulah TGP juga, awalnya merupakan sekumpulan pelajar teknik yang dibekali keterampilan militer dan turut berjuang dalam garis komando yang jelas. Ini akan membedakannya dengan laskar – laskar.

1 Oktober 1945,
Kesatuan ini lahir di kota Surabaya oleh 20 orang siswa STN / SMTT sebagai pelopor yang menamakan diri Tentara Keamanan Rakjat (TKR) Tehnik. Guru mereka yaitu Hasanudin menjadi Komandannya. Sebagai “tes awal” mereka menyerbu tangsi militer Jepang Don Bosco Jepang lalu menjadikannya markas.

2 Oktober 1945,
Jepang menyerah, lalu senjata – senjata yang berlimpah oleh karena ada satu brigade Angkatan Darat Jepang dan satu armada Angkatan Laut Jepang yang meng “hibah” kan persenjataan tempurnya maka senjata – senjata ini seperti dibagikan gratis kepada banyak pemuda dan rakyat Surabaya. Termasuk disini pemuda – pemuda pelajar mulai dari SMP, SMT (Sekolah Menengah Tehnik), ST dan SMTT. Maka mereka melebur menjadi satu lalu membagi diri dalam empat kelompok besar yang mereka sebut “staf”. Keempat staf itu adalah :
1. Staf I, dari SMT Darmo, Surabaya, pimpinan Isman
2. Staf II, dari SMTT dan ST, pimpinan Sunarto
3. Staf III, dari SMP Praban dan Ketabang, Surabaya
4. Staf IV, dari kelompok pelajar yang bermarkas di Heeren Straat, Surabaya (Jl Rajawali, saat ini)

25 Oktober 1945,
Oleh Mayjen Sungkono dibentuk BKR maka kelompok pelajar ini berubah menjadi BKR pelajar. Mereka sempat turut berjuang di pertempuran Surabaya pada tanggal 28 oktober dan 10 Nopember 1945. Seperti pejuang yang lain mereka terdesak mulai dari Gunungsari, Sepanjang lalu Karangpilang, Surabaya. Disini Komandan TKR Tehnik, Hasanudin, gugur oleh ledakan peledaknya sendiri. Setelah dari Karapilang mereka mengundurkan diri melalui Krian lalu berkonsolidasi di Pabrik Gula Cukir, Jombang.

Dengan adanya genjatan senjata tanggal 14 Oktober 1946 maka para pelajar mulai kembali ke tugas belajar masing – masing dengan menumpang sekolah di tempat pengunduran diri.

Kelahiran Tentara Genie Pelajar

Selanjutnya, Staff II memisahkan diri dari induk menjadi TKR Pelajar Dinas Genie Pertahanan Surabaya. Kesatuan pelajar ini berpindah pindah sekolahnya, tercatat beberapa sekolah yang pernah dipakai, yaitu :
1. Sekolah di Lawang dan diasramakan di Jl. Sumberwaras, Lawang.
2. Sekolah Katolik Cor Jesu, Malang
3. SMP Kristen, Jl Semeru 42, Malang. Asramanya di Jl Ringgit.

Disekolah terakhir dibentuklah Kesatuan Tentara Genie Pelajar (TGP), pimpinan Sunarto, tanggal 2 Februari 1947. Semboyan mereka yang terkenal yaitu “Berjuang Sambil Belajar”. Latihan dasar kemiliteran dilatih oleh Sekolah Kadet Angkatan Laut, Malang.
Terbentuklah satu Batalyon TGP yang dibagi menjadi empat kompi :
1. Kompi I, daerah Malang, Blitar dan Pare
2. Kompi II, daerah Madiun, Bojonegoro dan Pati
3. Kompi III, daerah Solo
4. Kompi IV, daerah Yogyakarta

Beberapa aksi yang dilakukan Tentara Genie Pelajar, yaitu :

21 Juli 1947
Bertepatan dengan Agresi Militer Belanda I. TGP wilayah Malang melakukan tugas berupa pertahanan Jalan Pandaan, Lawang, persiapan bumi hangus kota Malang dan lapangan terbang Bugis, persiapan pemindahan markas darurat ke sebelah barat Kali Kepanjen.

23 Juli 1947
Markas TGP dipindahkan ke Sumberpucung. Pos komando dibagi dua yaitu posko garis depan di Jl Ringgit, Malang dan Posko utama di Bululawang.

24 Juli 1947
Penghancuran Jembatan KA Kendalpayak, Jembatan KA Sempal Wadak, Pabrik Gula Krebet dan Percetakan Uang Negara Kendalpayak, disini dapat diungsikan mesin cetak uang dan uang kertas sebanyak 5 gerbong.

26 Juli 1947
Peledakan jembatan – jembatan sebelah timur Kepanjen. Peledakan jembatan Gambirsari, Pasirian. Hari – hari berikutnya RRI Malang, stasiun kota baru, Malang, Lapangan terbang Bugis, gedung KNI, hotel Palaco, kantor karesidenan dan lain – lain.

31 Juli 1947
Kota Malang jatuh ke tangan Belanda. Garis demarkasi berada di Bululawang.

September 1947
Gerakan Wingate (penyusupan) kewilayah Belanda oleh empat regu khusus. Regu Lutfi dan Batalyon Syarif ke daerah Probolinggo. Regu Sisworo dan Batalyon Skertio ke daerah Lumajang. Regu Kasbi dan Batalyon Magenda ke daerah Jember. Regu Chenot Santoso ke daerah Malang Selatan.

sumberĀ  Buku : 45thn Zeni TNI AD,1991 Ditziad

Agresi Militer Belanda, Pierre Heijboer

Bunga Rampai Zeni TNI AD,1998,Pusdikzi

Sejarah Satuan Pusdikzi Kodiklat TNI AD

About these ads

About cosmas97

Guru Militer di Pusat Pendidikan Zeni Kodiklat TNI AD
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s